Jumat, 27 Juni 2014

Syarat dalam Merujuk Pasien >>>>



1. Rujukan harus dibuat oleh orang yang berkompeten dan memiliki wewenang 
2. Rujukan dan rujukan balik mengacu pada standar pelayanan rujukan 
3. Untuk menjamin keadaan umum, agar tetap kondisi stabil selama dalam perjalanan ke tempat rujukan 
4. Rujuk pasien ke tempt fasilitas kesehatan yang lebih tinggi


Bagaimana Perawatan Tali Pusat Pada Bayi ???

PERAWATAN TALI PUSAT


a.    Pengertian Tali Pusat
       Tali pusat dalam istilah medisnya umbilical cord. Merupakan suatu tali yang menghubungkan janin dengan uri atau plasenta. Sebab semasa dalam rahim, tali inilah yang menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin yang berada di dalamnya. Begitu janin dilahirkan, ia tidak lagi membutuhkan oksigen dari ibunya, karena sudah dapat bernapas sendiri melalui hidungnya. Oleh kerena itu sudah tidak diperlukan lagi, maka saluran ini harus segera dipotong dan dijepit atau diikat (Vivian, 2010).
b.    Fisiologi lepasnya tali pusat
       Pada saat tali pusat terpotong maka suplai darah dari ibu terhenti. Tali pusat yang masih menempel pada pusat bayi lama kelamaan akan kering dan terlepas. Pengeringan dan pemisahan tali pusat sangat dipengaruhi oleh jelly Wharton atau aliran udara yang mengenainya. Jaringan pada sisa tali pusat dapat dijadikan tempat koloni oleh bakteri terutama jika dibiarkan lembab dan kotor (Mitayani, 2010).
       Pada sisa potongan tali pusat inilah yang menjadi sebab utama terjadinya infeksi pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat dicegah dengan membiarkan tali pusat kering dan bersih. Tali pusat dijadikan tempat koloni bakteri yang berasal dari lingkungan sekitar.
       Penyakit tetanus ini diderita oleh bayi baru lahir yang disebabkan basilclostridium tetani yang dapat mengeluarkan toksin yang dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan “Tetanospasmin” yang bersifat neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot (Jitowijoyo dan Kristiyanasari, 2010).
c.    Perawatan tali pusat
                       1)    Pengertian
       Perawatan adalah proses perbuatan, cara merawat, pemeliharaan, penyelenggaraan. Hal yang paling terpenting dalam membersihkan tali pusat adalah memastikan tali pusat dan area disekelilingnya selalu bersih dan kering, selalu mencuci tangan dengan menggunakanair bersih dan sabun sebelum membersihkan tali pusat. Selama tali pusat belum puput, sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara dicelupkan ke dalam air. Cukup diusap saja dengan kain yang direndam air hangat. (Endang, 2010).
                       2)    Tujuan Perawatan Tali Pusat
       Tujuan perawatan tali pusat adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus pada bayi baru lahir. Penyakit ini disebabkan karena masuknya spora kuman tetanus kedalam tubuh melalui tali pusat, baik dari alat yang tidak steril, pemakaian obatobatan, bubuk atau daun-daunan yang ditaburkan ke tali pusat sehingga dapat mengakibatkan infeksi (Wiknjosastro, 2006).
         Menyatakan bahwa tujuan merawat tali pusat adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus pada bayi baru lahir,sehingga tali pusat tetap bersih, kuman-kuman tidak masuk
sehingga tidak terjadi infeksi pada tali pusat bayi. Penyakit tetanus ini disebabkan oleh Clostridium tetani yaitu kuman yang
mengeluarkan toksin (racun), yang masuk melalui luka tali pusat
karena perawatan atau tindakan yang kurang bersih (Saifuddin,
2002).
                       3)    Cara Perawatan Tali Pusat
       Perawatan tali pusat merupakan salah satu perawatan neonatus terutama pada dua minggu pertama kehidupan. Ibu harus menjaga tali pusat tetap bersih dan kering sampai akhirnya terlepas (Shelov, 2004).
Cara perawatan tali pusat menurut JKPK-KR (2008) adalah :
a)    Jangan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau
b)     mengoleskan cairan atau bahan apapun ke putung tali pusat.
c)     Mengoleskan alkohol atau betadin (terutama jika pemotongan tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperkenankan tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan basah atau lembab.
d)    Lipat popok dibawah putung tali pusat.
e)     Jika putung tali pusat kotor, bersihkan (hati-hati) dengan air DTT/steril dan sabun kemudian segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih.
f)      Segera mencari bantuan jika tali pusat menjadi merah, bernanah/berdarah, atau berbau.
                       4)    Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merawat tali pusat
        Pada dasarnya merawat tali pusat adalah tindakan sederhana. Walaupun sederhana, harus memperhatikan prinsip-prinsip seperti selalu mencuci tangan dengan air bersih dan menggunakan sabun, menjaga agar daerah sekitar tali pusat tetap kering serta tali pusat tidak lembab, dan tidak membubuhkan apapun pada sekitar daerah tali pusat. Karena bila hal-hal tersebut tidak diperhatikan dapat mengakibatkan infeksi, dan bila terjadi infeksi masalahnya tidak menjadi sederhana lagi (Sodikin, 2009).
       Metode yang sekarang digunakan untuk membersihkan tali pusat adalah dengan air matang atau air bersih tanpa diberi obat-obatan seperti betadine atau alkohol (JNPK-KR, 2008). Selama tali pusatnya belum puput, sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara dicelupkan ke dalam air, cukup dilap saja dengan air hangat.
      Alasannya untuk menjaga tali pusat tetap kering. Bagian yang harus dibersihkan adalah pangkal tali pusat bukan atasnya. Untuk membersihkan pangkal ini harus sedikit mengangkat (bukan menarik tali pusat). Sisa air yang menempel pada tali pusat dapat dikeringkan dengan kain kassa steril atau kapas, setelah itu tali pusat dikeringkan (Sinsin, 2008).
       Tali pusat harus dibersihkan sedikitnya dua kali dalam sehari. Tali pusat tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat juga menimbulkan resiko infeksi. Kalaupun terpaksa ditutup tutuplah dengan longgar pada bagian atas tali pusat dengan kain kassa steril. Pastikan bagian pangkal tali pusat dapat terkena udara dengan leluasa. Intinya adalah membiarkan tali pusat terkena udara agar dapat mengering dan lepas (Ellen, 2008).
       Sebaiknya tali pusat tidak perlu diberi apa-apa, seperti obat luka. Akan tetapi jika tidak yakin, bisa ditutupi dengan kain kassa steril. Namun jangan lupa untuk menggantinya setiap kali usai mandi, si kecil berkeringat, terkena kotoran, dan basah. Hindari hal-hal yang aneh dan berbau mistis seperti menaruh koin di atas tali pusat bayi, diberi kopi, minyak, daun-daunan, kunyit (Ellen,2008).
                       5)    Faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya lepasnya tali pusat
      Lepasnya tali pusat menurut (Wawan, 2010) dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah :
a)    Cara perawatan tali pusat, penelitian menunjukkan bahwa tali pusat yang dibersihkan dengan air, sabun dan di tutup dengan kassa steril cenderung lebih cepat puput (lepas) dari pada tali pusat yang dibersihkan dengan alkohol.
b)    Kelembaban tali pusat, tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab.
c)    Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi.
d)    Kondisi sanitasi lingkungan sekitar neonatus, Spora C. Tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.
e)    Timbulnya infeksi pada tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan, misalnya pemotongan tali pusat dengan bambu/gunting yang tidak steril, atau setelah dipotong tali pusat dibubuhi abu, tanah, minyak daun-daunan, kopi dan sebagainya.
                       6)    Gangguan – gangguan pada tali pusat.
       Tali pusat basah, berbau, dan menunjukkan tanda-tanda radang yang jika tidak segera dibantu akan menyebabkan sepsis, meningitis, dan lain-lain (Wiknjosastro, 2005). Pada pangkal tali pusat dan daerah sekitarnya berwarna merah, ada cairan berbau, darah yang keluar terus menerus (JKPK-KR, 2008).
       Selain perawatan tali pusat, menurut (Wiknjosastro, 2006) masih ada perawatan pada bayi sehari-hari lainnya antara lain :
a) Memandikan bayi
b) Membungkus atau membedong bayi
c) Merawat kuku dan rambut bayi
d) Pijat bayi

Apa itu Lotus Birth ???

Metode Persalinan Lotus Birth 


Lotus Birth adalah metode baru proses persalinan, yang mendukung gerakan back to nature dalam proses kelahiran bayi. Yaitu dengan proses persalinan alami tanpa memotong tali pusat yang terhubung ke plasenta, dan membiarkannya terlepas secara alami. Setelah proses persalinan, tali pusat dibiarkan tersambung dengan plasenta yang telah ditempatkan dalam wadah khusus dan diletakan di samping bayi.

Saat memandikan bayi, plasenta juga harus dibersihkan dan kemudian dikeringkan. Dan ketika menggendong bayi, plasenta juga harus ikut digendong, namun bisa diletakan di dalam tas khusus. Untuk menghilangkan bau tidak sedap, maka plasenta yang sudah di wadah khusus dibiarkan kering dan diberi garam, bunga atau rempah-rempah yang berbau wangi.

Ibu dan bayi akan mendapatkan manfaat lebih besar dengan metode Lotus Birth, terutama dalam hal bonding. Dan pemotongan tali pusat sebelum waktunya lepas dengan sendirinya, dapat menyebabkan bayi lebih mudah terkena infeksi. Sistem imun bayi mengalami tantangan yang besar setelah dilahirkan. Dan membiarkan tali pusat terlepas secara alami akan menjaga volume darah bayi, sehingga meningkatkan daya tahan tubuh. Bagi mereka yang telah mempersiapkan metode Lotus Birth, akan menjadikan metode tersebut bagian termudah dari melahirkan.

Manfaat Lotus Birth

Pemotongan tali pusat bayi lebih awal akan mengganggu penyaluran darah dari ibu ke bayi yang baru dilahirkan. Penundaan pemotongan tali pusat tidak hanya memberikan lebih banyak darah yang dapat disalurkan, tetapi juga membantu mencegah anemia pada bayi yang baru dilahirkan.

Langkah dilakukan Lotus Birth
§  Ketika bayi lahir, tali pusat dibiarkan utuh, dan tidak dipotong. Apabila tali pusat berada sekitar leher bayi, maka cukup diangkat untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
§  Tunggu lahir / keluarnya plasenta secara alami dari rahim ibu.
§  Ketika plasenta lahir, letakan pada wadah yang diletakan di mangkuk dekat ibu.
§  Tunggu transfusi penuh darah dari pusat ke bayi sebelum menangani plasenta.
§  Hati-hati dan menggunakan air hangat dan tepuk-tepuk sampai plasenta kering.
§  Letakan plasenta di tempat yang kering beberapa waktu.
§  Setelah itu Letakkan plasenta pada bahan yang menyerap air seperti sebuah popok atau kain kemudian letakkan dalam tas khusus penyimpanan plasenta.
§  Gendong bayi / pakaikan pakaian yang longgar dan berikan ASI sesuai kebutuhan (jeda 1 – 2 jam).
§  Bayi dapat dimandikan seperti bayi pada umumnya, namun tetap dengan plasenta yang belum dilepas.
§  Agar bayi tidak merasa risi dan sakit, batasi pergerakan bayi.
Meski cukup merepotkan, para ibu yang melakukan metode Lotus Birth percaya manfaat yang akan didapatkan buah hatinya di masa depan akan jauh lebih besar. Bagi anda yang ingin melakukan persalinan Lotus, bisa berkonsultasi kepada bidan atau dokter yang menangani Pemeriksaan Kehamilan anda.



Ringkasan:
§  Lotus Birth adalah metode persalinan dengan membiarkan tali pusat terlepas sendiri dari plasenta / ari-ari setelah 2-3 hari.
§  Persalinan Lotus memberikan keuntungan lebih pada bayi setelah dilahirkan atau di masa mendatang.


BAGAIMANA CARA BAYI BERKOMUNIKASI ?

Kenali bahwa bayi Anda sedang berkomunikasi pada kita ^_^ ....




Bayi yang berusia 2 bulan kadang membuat suara - suara huruf hidup ('cooing) dan berhenti membuat suara untuk mendengar orang dewasa berbicara dan melakukan 'cooing' lagi seolah - olah bayi ingin mengobrol dengan orang tuanya.

Bayi 2 sampai 3 bulan biasanya mulai berpartisifasi untuk bergantian berbicara. jauh sebelum bayi dapat berbicara, bayi sering mengeluarkan suara - suara huruf hidup dengan intonasi yang mirip dengan digunakan orang dewasa ketika berbicara. Dan bayi tampak - tampak mengerti kapan memulai atau berhenti untuk memberikan kesempatan orang lain memberikan kesempatan orang lain memberikan respon. Hal ini merupakan langkah awal bayi belajar berbicara.

 Sumber : Buku Mimpi, Senyum dan Tangis Bayi Anda (Ery Soekresno,Psi DKK)

SUMBER - SUMBER VITAMIN BAGI IBU HAMIL

1. Vitamin A : terkandung dalam minyak hati, kuning telur, susu. Kekurangan vitamin A (aseroftol) dapat berakibat kebutaan pada anak yang lahir, atau dapat gangguan kornea.


2. Vitamin B1 terkandung dalam biji - bjian seperti gandum, beras, susu, telur, sayur - sayuran, hati,ikan,pala.

3. Vitamin C : terkandung dalam buah - buahan seperti jeruk limau, jeruk nipis, anggur, sayur - sayuran jus. Vitamin ini berfungsi sebagai imunitas (kekebalan) bagi ibu hamil dalam melawan bibit penyakit yang akan menjalar. juga membantu dalam penyerapan zant besi ke dalam tubuh.
4. Vitamin D : terletak di bawah lapisan kulit langsung akan terlihat saat manusia terkena sinar matahari. seperti dalam minyak hati, kuning telur, hati , hati dan ikan.


5. Vitamin K : (anti pendarahan) terkandung dalam daun - daun sayuran, kubis, salak dan sedikit kadar di kuning telur, hati dan susu. Kekurangan vitamin K akan mengakibatkan perdarahan pada ibu pada saat persalinan.


6. Kalsium (Ca) : Sumber terdapat di ikan, sarden, daun - daunan, sayur - sayuran, daun seledri, salak dan roti. Kekurangan kalsium dapat berakibat kerapuhan tulang. karena sangat urgen dalam pertumbuhan gigi dan tulang anak.



7. Zat Besi : sumbernya terdapat pada kuning telur, hati, daging, buah - buahan kering, sayuran, buncis , kenari.


8. Yodium : terdapat pada ikan, makanan laut, hati dan kenari 


9. Folic Acid : sumbernya terdapat pada daun - daunan sayuran, kacang saudan, dan roti gandum. Berguna untuk perkembangan bagian syaraf pusat, karena bgi ibu hamil sangatlah penting. 


10. Karenanya, Kami sarankan untuk banyak makan - makanan yang mengandung unsur serat selulosa, seperti buah - buahan yang merupakan sumber yang kaya akan kandungan serat.

11. Minum air putih sebanyak - banyaknya, untuk menghindari sembelit.

Semoga bermanfaat ^_^

Sumber : Buku 350 Nasehat Untuk Ibu Hamil dan Setelah Persalinan (Dr. Muhammad Abdul Azhim A.L)














Kamis, 26 Juni 2014

DISTOSIA BAHU


PENATALAKSANAA : 


Sumber : Buku Kegawatdaruratan ASKEB IV dalam Penanganan Distosia Bahu